Tatacara Melakukan Pengujian Harvard Step Test Untuk Menentukan Tingkat Kebugaran Jantung Paru

Kesegaran jasmani adalah suatu keadaan yang dimiliki atau dicapai seseorang dalam kaitannya dengan kemampuan untuk melakukan aktivitas fisik. Kesegaran jasmani berkaitan dengan kesehatan ketika aktivitas fisik dapat dilakukan tanpa kelelahan berlebihan, terpelihara seumur hidup dan sebagai konsekuensinya memiliki risiko lebih rendah untuk terjadinya penyakit kronik lebih awal. Seseorang yang secara fisik bugar dapat melakukan aktivitas fisik sehari-harinya dengan giat, memiliki risiko rendah dalam masalah kesehatan dan dapat menikmati olahraga serta berbagai aktivitas lainnya.

Komponen kesegaran jasmani secara garis besar dibagi menjadi 2 yakni kesegaran jasmani yang berhubungan dengan keterampilan (meliputi : kecepatan, daya ledak otot, ketangkasan, keseimbangan dan koordinasi) dan kesegaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan (meliputi : kekuatan otot, daya tahan otot, kelenturan, daya tahan kardiorespirasi, dan komposisi tubuh). Hal ini dipengaruhi oleh berbagai hal antara lain umur, jenis kelamin, genetik, ras, aktivitas fisik termasuk latihan dan kadar hemoglobin.

Pada anak kesegaran jasmani ini seringkali terlupakan. Padahal kesegaran jasmani ini sangat bermanfaat untuk menunjang kapasitas kerja fisik anak yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan prestasinya.
Daya tahan kardiovaskuler yang baik akan meningkatkan kemampuan kerja anak dengan intensitas lebih besar dan waktu yang lebih lama tanpa kelelahan. Daya tahan otot akan memungkinkan anak membangun ketahanan yang lebih besar terhadap kelelahan otot sehingga mereka bisa belajar dan bermain untuk jangka waktu lebih lama. Terlebih lagi kesegaran jasmani yang rendah diduga merupakan prekursor terhadap mortalitas pada orang dewasa, sedangkan tingkat kesegaran jasmani sedang memperlihatkan efek protektif terhadap beberapa prediktor mortalitas seperti merokok, hipertensi dan hiperkolesterolemia.

Penelitian di Jakarta (1997)  pada anak-anak usia 6-12 tahun menunjukkan bahwa 41,5 % anak memiliki tingkat kesegaran jasmani sedang, sedangkan 41,1% memiliki tingkat kesegaran jasmani kurang dan kurang sekali. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang diperoleh Departemen Kesehatan pada tahun 1993, yakni 47,8% anak usia sekolah dasar di 20 SD DKI memiliki tingkat kesegaran jasmani kurang dan kurang sekali.

Salah satu komponen kesegaran jasmani yang penting adalah komposisi tubuh. Beberapa penelitian tentang kesegaran jasmani berkaitan dengan komposisi tubuh telah dilakukan. Penelitian pada laki-laki dewasa di Jepang menunjukkan bahwa kesegaran jasmani laki-laki obesitas lebih rendah dibandingkan subyek normal atau borderline. Penelitian diantara kelompok etnik berumur 9 tahun di Inggris menunjukkan bahwa anak obesitas dan anak yang pendek memiliki kesegaran jasmani lebih buruk dibandingkan anak-anak lainnya. Dari penelitian di Birmingham pada anak umur 6-11 tahun diperoleh kesimpulan bahwa terdapat korelasi negatif antara kesegaran kardiorespirasi dan peningkatan jaringan lemak.

Hal ini hampir serupa dengan penelitian di Jakarta yang mengukur tingkat kesegaran jasmani secara umum yakni didapatkan bahwa makin tinggi persen lemak tubuh makin rendah tingkat kesegaran jasmaninya. Sebaliknya penelitian pada anak muda Flemish (2003) ternyata didapatkan bahwa subyek dengan obesitas menunjukkan kekuatan pegangan tangan (handgrip strength) yang lebih besar dibandingkan non obesitas, meskipun komponen kesegaran jasmani yang lain memiliki skor yang lebih rendah.

Saat ini prevalensi obesitas pada anak dan remaja meningkat tajam di seluruh dunia. Prevalensi pada anak usia 6-17 tahun di Amerika Serikat dalam tiga dekade terakhir meningkat dari 7,6-10,8% menjadi 13-14%. Prevalensi obesitas pada anak-anak sekolah di Singapura meningkat dari 9% menjadi 19%. Di Jakarta (1998) pada umur 6-12 tahun ditemukan obesitas sekitar 4%, pada anak remaja 12-18 tahun ditemukan 6,2%, dan umur 17-18 tahun 11,4 %. Penelitian di Semarang (2003) menunjukkan proporsi obesitas pada murid sekolah dasar usia 6-7 tahun adalah sebesar 10,6%, bahkan di salah satu sekolah dasar favorit di Semarang (2004) diperoleh prevalensi obesitas sebesar 28,6 %.

Masa remaja merupakan masa pertumbuhan cepat dan terjadi perubahan dramatis pada komposisi tubuh yang mempengaruhi aktivitas fisik dan respon terhadap latihan. Terdapat peningkatan pada ukuran tulang dan massa otot serta terjadi perubahan pada ukuran dan distribusi dari penyimpanan lemak tubuh.
Salah satu cara penentuan obesitas adalah dengan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT bisa menggambarkan lemak tubuh yang berlebihan, sederhana dan bisa digunakan dalam penelitian populasi berskala besar. Pengukurannya hanya membutuhkan 2 hal yakni berat badan dan tinggi badan, yang keduanya dapat dilakukan secara akurat oleh seseorang dengan sedikit latihan.

Mengingat pentingnya kesegaran jasmani pada anak dan kecenderungan peningkatan prevalensi obesitas di Indonesia perlu penelitian-penelitian tentang hubungan obesitas dengan tingkat kesegaran jasmani pada anak di Indonesia karena belum banyak penelitian yang dilakukan dalam hal ini.

Harvard Step Test


Adapun tatacara Untuk  melakukan Pengujian Harvard Step Test bisa anda lakukan dengan cara berikut ini;
cara melakukan harvard step test
Harvard Step Test - Source Image : Chonma.co.kr
Sebelum anda melakukan pengujian Harvard Step Test, perlu anda ketahui bahwa secara singkat pengertian Harvard Step Test adalah cara menguji tingkat kesegaran jasmani dengan menggunakan media bangku / naik turun bangku dan tujuan dari proses tes ini adalah untuk Menganalisa tingkat kebugaran jantung paru , prosedur dan alat yang dibutuhkan adalah sebagai berikut;

Alat dan Bahan :
  1. Bangku Harvard modifikasi (17 Inci)
  2. Pengukur waktu (arloji/stopwatch
  3. Metronome ketukan 120x/menit
  4. Sfigmomanometer dan stetoskop
Cara Kerja : (Lakukan terhadap minimal 3 peserta laki-laki dan 3 perempuan)
  1. Lakukan pemanasan ringan selama 5 menit sebelum mulai.
  2. Naracoba berdiri menghadap bangku sambil mendengarkan detakan metronome berfrekuensi 120x/menit.
  3. Pada detakan 1, naracoba menempatkan salah satu kaki (dominan) di atas bangku.
  4. Pada detakan ke-2, kaki yang lain naik k eats bangku sehingg naracoba telah berdiri tegak diats bangku.
  5. Pada detakan ke-3, kaki yang pertama naik diturunkan.
  6. Pada detakan ke-4, kaki kedua diturunkan sehingga naracoba telah kembali di atas lantai
  7. Tepat pada detakan berikutnya (ke-5) kaki yang pertama kembali naik k eats bangku, demikian seterusnya.
  8. Siklus tersebut diulang terus menerus sampai naracoba tidak kuat lagi, namun tidak lebih dari 5 menit. Catat waktu berapa lama naracoba bertahan (arloji/stopwatch).
  9. Segera setelah itu naracoba disuruh duduk. Segera hitung dan catat frekuansi denyut nadi selama 30 detik sebanyak 3x, yaitu : dari 1’-1’. 30” (N1), dan 2’-2’.3“ (N2), dan 3’-3’.30” (N3) setelah duduk.

Cara Menghitung Indeks Kesanggupan Dari Hasil Harvard Step Test


Hitung indeks kesanggupan dengan cara berikut ;
Cara lambat :
Indeks Kesanggupan = ( Lama naik turun ( Detik ) x 100 ) / 2 x ( N1+N2+N3 )
Nilai normal  :
< 55 : kurang
55-64 : sedang
65-79 : cukup
80-89 : baik
> 89: sangat baik
Cara Cepat :
Indeks Kesanggupan = ( Lama naik turun ( Detik ) x 100 ) / 5,5 x N1
Untuk Tabel Kumulatif penilaiannya bisa anda lihat melalui tabel / gambar dibawah ini;
tabel indeks kesanggupan
Keterangan :
Nilai normal :
< 50 : kurang
50-80 : sedang
>80 : baik

Dari keterangan di atas bisa di perjelas bahwa ketika anda melakukan uji coba atau tes dengan menerapkan rumus diatas akan mencapai nilai denyut nadi yang menjadi patokan hasil dari harvard step test, sebagai contoh jika anda melakukan harvard step tes selama 1 menit dan denyut nadi selama satu menit adalah 70 maka bisa dikatakan tingkat kebugaran jantung paru anda adalah sedang,lihat tabel dan gunakan rumus diatas secara tepat, jika masih butuh keterangan lebih lanjut, tinggalkan komentar aja ya.

Semoga apa yang saya sampaikan mengenai tatacara melakukan uji Harvard Step test bisa membantu rekan semua yang ingin menguji tingkat kesegaran jasmani peserta didiknya ataupun atletnya, semoga bermanfaat, terimakasih

Dapatkan Info Terbaru dari Volimaniak:

close